Posts

Ngobrol sama Eki

Image
Eki, hampir satu minggu mako pergi. Saya ingat pertama kali kita komunikasi via whatsapp, tanggal 21 Mei 2024. “ Perkenalkan saya Resky, partnership TEDx kak yang jadi pic UnhasTV ” begitu isi wa mu. Formal na mamo de eh haha. iya kan baru ki komunikasi toh, jadi masih segan ko pasti waktu itu pasti. Waktu itu saya juga merasa nda enakan karena takut ka nge bossy, dan ko tahu mi toh, volunteer itu bukan anak buahku karena saya nda gaji, jadi sungkan ka kalo minta tolong apa-apa begitue. Lincah skali ko waktu itu, jago ko atur waktu, tau-tau ada mako di Unhas TV. “ sampaima kak, bisamka telfonki ” begitu wa mu. Padahal waktu kau wa itu, saya ada kegiatan, tapi karena disana mako, jadi terpaksa kutinggalkan kegiatanku itu nah. Deh, Eki berhasil ki sama UnhasTV nah. Kita urus podcast, sampai-sampai seperti mako asisten pribadiku uruski jadwalku untuk podcast di UnhasTV sama radio haha seru na de eeh.  Weh, takut skali ka itu hari nah, kau kemana-mana urus TEDx pake motormu. Malla-mall...

Kelas Menengah Andalankuh

Image
Perhari minggu 25 Agustus kemarin kita sudah mendengarkan berita bahwa DPR RI telah setuju agar Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Pilkada 2024 mengikuti putusan Mahkamah Konstitusi No. 60 dan No. 70. Meskipun menurut Bivitri Susanti, seorang ahli hukum, bahwa PKPU tidak memerlukan persetujuan DPR, walaupun ada aturan yang mengatur KPU berkonsultasi ke DPR namun hasil konsultasi itu tidak mengikat dan tidak menjadi dasar hukum bagi PKPU.   Bagi banyak orang, apalagi mereka yang terlibat dalam aksi turun kejalan sejak tanggal 22 Agustus lalu, keputusan MK dijadikan dasar PKPU adalah sebuah kemenangan gerakan perlawanan. Karena keputusan MK ini membuyarkan sistem yang rentan membentuk oligarki politik dan, untuk dinamika politik saat ini, menggagalkan niat dinasti politik Jokowi.  Putusan MK mengenai ambang batas (treshold) pemilu menyentuh hal yang cukup mendasar karena bisa meningkatkan partisipasi politik dengan terbukanya peluang bagi lebih banyak calon termasuk cal...

Sakralnya Gelar Professor dan Perlukah Desakralisasi?

Sakralnya Gelar "Professor" "Iye Prof" atau "Iye, baik Prof" adalah jawaban yang biasanya diberikan oleh mahasiswa kepada dosennya yang punya gelar Professor. Dalam beberapa kasus, mahasiswa kadang bercanda " kalo ngomong sama Prof, harus membungkuk sedikit dan kedua tangan harus sambil pegang *** (itu). "  Dalam debat kandidat cawapres lalu, Gibran mengatakan " ini tadi tidak saya jelaskan karena kan beliau kan seorang Professor " yang mungkin kata-kata ini didasarkan pada kepercayaan bahwa "professor pasti tahu segalanya" bahkan singkatan-singkatan bahasa asing pun pasti dia tahu.  Pada konteks Indonesia, guru adalah profesi yang dianggap mulia karena diyakini gurulah yang membuat seorang manusia menjadi berguna bagi masyarakat dan membawa kebaikan. Oleh karena itu, guru, selain mulia, juga adalah manusia yang super hebat. Bayangkan bagaimana hebatnya seorang GURU BESAR atau seorang "Professor." Mulianya double-dou...

Merasakan Indonesia Timur di Belanda

Image
Selama empat tahun terlibat di Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia ( BaKTI ), saya  berkesempatan menjelajahi banyak tempat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Saya tak hanya menyaksikan panorama alam yang mempesona yang dikenal sebagai “surga kecil jatuh kebumi” tetapi setiap interaksi dengan keberagaman budaya, dari upacara tradisional hingga pertunjukan, telah membuka mata saya pada kekayaan tak terhingga dari warisan budaya Indonesia Timur.  Tidak hanya alam dan budaya, tetapi juga kebaikan dan keramahan masyarakat setempat menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman ini. Mereka bukan sekadar tuan rumah yang ramah, tetapi juga membuka pintu hati dan cerita, memberikan pengalaman yang hangat dan berharga. Kesederhanaannya mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, memberikan makna akan pentingnya toleransi dan keberagaman. Mengalami keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia telah menyadarakan saya pada pe...

TIDAK HARUS KE UNIVERSITAS

Image
“tidak semua anak harus ke universitas. Tidak semua anak harus ke universitas ditahun yang sama lulus SMA”   Kurang lebih seperti itu kata-kata Bapakku saat saya lulus di Universitas Hasanuddin beberapa tahun yang lalu. Saat itu, saya tidak terlalu hirau namun rasanya kata-kata itu menemukan realitasnya ketika beberapa waktu lalu cukup ramai perbincangan mengenai lulusan S1 salah satu universitas terbaik di Indonesia yang kalah bersaing dengan lulusan STM dalam mendapatkan pekerjaan.   Semakin tinggi sekolah, makin sukses   Kenapa anak-anak kita “paksakan” agar masuk ke universitas? Dugaan berbasis pengalaman dan pengamatan sederhana saya adalah karena jika lulus SMA dan tidak ke universitas, maka anak akan dengan spontan kita labeli gagal, atau tertinggal, atau bodoh atau minimal “aduh kasihan sekali.” Akibatnya keluarga akan malu jika ada anggota keluarga yang gagal masuk universitas. Maka berlomba-lombalah orang berusaha semaksimal mungkin, jika bisa segala macam cara,...

Merajut Jalan Menuju Pembelajaran yang Membahagiakan

Image
Foto oleh: Nurhaya Nurdin (Fak. Keperawatan, Unhas) pada kegiatan pelatihan Active Citizens Social Enterprise (Unhas - British Council) “Kids don’t learn from people they don’t like” – Rita Pierson. Kata-kata Pierson logis, karena orang cenderung menghindari apa-apa yang dia tidak sukai. Lantas bagaimana pembelajaran bisa terjadi jika orang menghindar? JC Tukiman Taruna menuliskan opini di kompas.id berjudul “ Universitas Sekolah Dasar” dan Kurikulum Merdeka ” (14-02-2022). Terinspirasi oleh apa yang dilkukan oleh John Dewey di Universitas Chicago (1894), Tukiman mempromosikan Joyful Learning Model (JLM) dengan meminjam semangat fun learning dari suasana pembelajaran anak usia dini.  Kenapa harus fun? karena manusia cenderung mendatangi hal-hal yang menyenangkan. JLM ini diupayakan secara gencar bisa terimplementasi secara penuh di UNIKA Soegijpranata Semarang dengan harapan terwujudnya suasana menyenangkan, gembira, keceriaan sepanjang proses pembelajaran. Jika harapan itu ter...

Teman (baru kenal tapi) Rasa Sahabat!

Image
Saya dapat informasi kalo Kepala Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH) yang baru adalah orang dari Sulawesi Selatan. Katanya dari Toraja, ada kabar juga kalo dia orang Gowa. Entahlah. Selang beberapa lama, seorang teman, Lana, menelpon dan mengabarkan bahwa dia sudah bertemu pak Kepsek SIDH. Namanya pak Herman Tahir, dia orang Gowa tapi sejak lama sudah menjadi guru di Toraja. Terakhir, sebelum ke Belanda, dia adalah kepala sekolah SMP Negeri 1 di Makale, Tana Toraja. Melalui telpon itu juga, saya dikasih tahu kalau pak Herman ingin ketemu dengan saya. Katanya " ooh anaknya Prof. Sallatu? Panggil dia kesini ". Akhirnya saya dan Lana mengatur jadwal untuk bersamaan ada di SIDH.  Saya beruntung mengenal Lana, sepupu dari sahabat saya, Adelina. Kata Lana " saya sudah dapat surat tugas dari Adelina naah, jangan macam-macam hihi ". Awal-awal pindah ke student housing, pertanyaan Lana " ada mi kasur mu? ada mi kompormu? butuhko alat dapur? ada mi mejamu? " beberapa ...