Posts

Terima Kasih, Trump!

Image
Caption: Presiden RI, Prabowo Subianto berfoto bersama Presiden AS, Donald J. Trump. Sumber foto: abcnews.com Di tengah maraknya narasi negatif tentang Trump, haruskah kita berterima kasih kepada dia? Jika kita mau melihat sedikit lebih jauh dari apa yang ditunjukkan oleh informasi-informasi tentang Trump, sebenarnya dia mengungkapkan banyak pelajaran tentang kepemimpinan negara, tentang bagaimana kekuatan politik bekerja. Post-truth and performative politics Dalam beberapa video pidatonya, Trump menunjukkan bahwa inkonsistensi bahkan kontradiksi adalah normal. Sebuah artikel di New York Times mengungkapkan bahwa Trump menggunakan taktik retorika yang membingungkan dengan mengubah-ubah posisi, mengaburkan pesan-pesannya yang saling bertentangan, terkadang dalam satu hari ( Green, 2025 ). Dalam artikel yang sama disebutkan bahwa Trump menggunakan distorsi dan kebohongan, termasuk pada masa jabatan pertamanya, dan komunikasi agenda politik luar negerinya membuat kontradiksi menjadi lebih...

Menyelam di lintasan dua arus tradisi akademik

Tanggal 18 Desember 2021 adalah pertama kalinya saya tiba di Wakatobi untuk memulai riset sosial tentang perubahan mata pencaharian masyarakat Wakatobi akibat pengembangan pariwisata. Saat itu saya turun lapangan dengan penuh ketidakpastian. Beberapa hal yang membuat saya khawatir, pertama; saya belum pernah ke Wakatobi, kedua; topik pariwisata dan penghidupan adalah topik yang baru bagi saya, ketiga; antropologi adalah disiplin ilmu yang tidak saya kuasai, dan keempat; ini yang paling membuat saya khawatir adalah saya tidak punya pengalaman melakukan riset etnografi. Segala kekhawatiran itulah yang menemani saya memulai melangkah di Wakatobi. Saat tiba di Wakatobi, saya masuk ke dalam mobil seorang yang diminta untuk menjemput saya, sapaan pertama sambil dia menutup pintu mobilnya, dia bilang begini: “ Bang, kita datang ketempat yang bagus sekali untuk menyelam .” Iya, Wakatobi memang dikenal sebagai salah satu tempat menyelam yang bagus karena kekayaan biota lautnya. Kawan itu tidak ...

Bertanya!

Image
Tindakan sederhana seperti ‘bertanya’ ternyata punya makna yang berbeda tergantung konteks relasi sosial budaya. Di konteks yang relasi kuasanya sangat kuat, hirarki sangat tinggi, bertanya dimaknai sebagai tindakan menantang otoritas, ingin menggeser atau menggugat tanggung jawab. Sementara di konteks sosial yang relasi kuasanya tidak terlalu terasa atau lebih egaliter, bertanya dilihat sebagai sebuah tindakan untuk menghadirkan obrolan yang lebih setara, dimaknai sebagai upaya melibatkan diri dalam pengambilan keputusan atau dalam melakukan kolaborasi. Saya mulai sadar akan perbedaan ini setelah beberapa lama mengalami langsung lingkungan akademik di Belanda, dimana secara kultur orang Belanda memiliki relasi yang lebih egaliter, dan tidak terlalu terasa hirarki. Tentu hirarki secara struktural ada, tapi tidak terlalu nampak dalam relasi personal. Salah satu kejutan budaya yang saya alami, adalah ketika dalam satu acara diskusi, seorang ketua departemen tidak dapat kursi dan harus du...

Ngobrol sama Eki

Image
Eki, hampir satu minggu mako pergi. Saya ingat pertama kali kita komunikasi via whatsapp, tanggal 21 Mei 2024. “ Perkenalkan saya Resky, partnership TEDx kak yang jadi pic UnhasTV ” begitu isi wa mu. Formal na mamo de eh haha. iya kan baru ki komunikasi toh, jadi masih segan ko pasti waktu itu pasti. Waktu itu saya juga merasa nda enakan karena takut ka nge bossy, dan ko tahu mi toh, volunteer itu bukan anak buahku karena saya nda gaji, jadi sungkan ka kalo minta tolong apa-apa begitue. Lincah skali ko waktu itu, jago ko atur waktu, tau-tau ada mako di Unhas TV. “ sampaima kak, bisamka telfonki ” begitu wa mu. Padahal waktu kau wa itu, saya ada kegiatan, tapi karena disana mako, jadi terpaksa kutinggalkan kegiatanku itu nah. Deh, Eki berhasil ki sama UnhasTV nah. Kita urus podcast, sampai-sampai seperti mako asisten pribadiku uruski jadwalku untuk podcast di UnhasTV sama radio haha seru na de eeh.  Weh, takut skali ka itu hari nah, kau kemana-mana urus TEDx pake motormu. Malla-mall...

Kelas Menengah Andalankuh

Image
Perhari minggu 25 Agustus kemarin kita sudah mendengarkan berita bahwa DPR RI telah setuju agar Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Pilkada 2024 mengikuti putusan Mahkamah Konstitusi No. 60 dan No. 70. Meskipun menurut Bivitri Susanti, seorang ahli hukum, bahwa PKPU tidak memerlukan persetujuan DPR, walaupun ada aturan yang mengatur KPU berkonsultasi ke DPR namun hasil konsultasi itu tidak mengikat dan tidak menjadi dasar hukum bagi PKPU.   Bagi banyak orang, apalagi mereka yang terlibat dalam aksi turun kejalan sejak tanggal 22 Agustus lalu, keputusan MK dijadikan dasar PKPU adalah sebuah kemenangan gerakan perlawanan. Karena keputusan MK ini membuyarkan sistem yang rentan membentuk oligarki politik dan, untuk dinamika politik saat ini, menggagalkan niat dinasti politik Jokowi.  Putusan MK mengenai ambang batas (treshold) pemilu menyentuh hal yang cukup mendasar karena bisa meningkatkan partisipasi politik dengan terbukanya peluang bagi lebih banyak calon termasuk cal...

Sakralnya Gelar Professor dan Perlukah Desakralisasi?

Sakralnya Gelar "Professor" "Iye Prof" atau "Iye, baik Prof" adalah jawaban yang biasanya diberikan oleh mahasiswa kepada dosennya yang punya gelar Professor. Dalam beberapa kasus, mahasiswa kadang bercanda " kalo ngomong sama Prof, harus membungkuk sedikit dan kedua tangan harus sambil pegang *** (itu). "  Dalam debat kandidat cawapres lalu, Gibran mengatakan " ini tadi tidak saya jelaskan karena kan beliau kan seorang Professor " yang mungkin kata-kata ini didasarkan pada kepercayaan bahwa "professor pasti tahu segalanya" bahkan singkatan-singkatan bahasa asing pun pasti dia tahu.  Pada konteks Indonesia, guru adalah profesi yang dianggap mulia karena diyakini gurulah yang membuat seorang manusia menjadi berguna bagi masyarakat dan membawa kebaikan. Oleh karena itu, guru, selain mulia, juga adalah manusia yang super hebat. Bayangkan bagaimana hebatnya seorang GURU BESAR atau seorang "Professor." Mulianya double-dou...

Merasakan Indonesia Timur di Belanda

Image
Selama empat tahun terlibat di Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia ( BaKTI ), saya  berkesempatan menjelajahi banyak tempat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Saya tak hanya menyaksikan panorama alam yang mempesona yang dikenal sebagai “surga kecil jatuh kebumi” tetapi setiap interaksi dengan keberagaman budaya, dari upacara tradisional hingga pertunjukan, telah membuka mata saya pada kekayaan tak terhingga dari warisan budaya Indonesia Timur.  Tidak hanya alam dan budaya, tetapi juga kebaikan dan keramahan masyarakat setempat menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman ini. Mereka bukan sekadar tuan rumah yang ramah, tetapi juga membuka pintu hati dan cerita, memberikan pengalaman yang hangat dan berharga. Kesederhanaannya mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, memberikan makna akan pentingnya toleransi dan keberagaman. Mengalami keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia telah menyadarakan saya pada pe...