Ngobrol sama Eki
Eki, hampir satu minggu mako pergi. Saya ingat pertama kali kita komunikasi via whatsapp, tanggal 21 Mei 2024. “Perkenalkan saya Resky, partnership TEDx kak yang jadi pic UnhasTV” begitu isi wa mu. Formal na mamo de eh haha. iya kan baru ki komunikasi toh, jadi masih segan ko pasti waktu itu pasti. Waktu itu saya juga merasa nda enakan karena takut ka nge bossy, dan ko tahu mi toh, volunteer itu bukan anak buahku karena saya nda gaji, jadi sungkan ka kalo minta tolong apa-apa begitue. Lincah skali ko waktu itu, jago ko atur waktu, tau-tau ada mako di Unhas TV. “sampaima kak, bisamka telfonki” begitu wa mu. Padahal waktu kau wa itu, saya ada kegiatan, tapi karena disana mako, jadi terpaksa kutinggalkan kegiatanku itu nah. Deh, Eki berhasil ki sama UnhasTV nah. Kita urus podcast, sampai-sampai seperti mako asisten pribadiku uruski jadwalku untuk podcast di UnhasTV sama radio haha seru na de eeh.
Weh, takut skali ka itu hari nah, kau kemana-mana urus TEDx pake motormu. Malla-malla'ka, ka kalo ada apa-apa dijalan pasti saya ikut tanggung jawab, ka dibilang lagi urus TEDx ki itu. Dumbats-dumbats ka itu nah kalo ada volunteer pergi urus-urus apa-apa. Makanya selalu kubilang sama anak-anak “weh hati-hati ko nah, pelan-pelan mako saja.”
Sehabis acara podcast UnhasTV, kau posting di group podcast “Terima kasih pak Arif, kak Akbar, kak Iffah atas bantuannya untuk promosikan TEDx, terima kasih sekali lagi.” Terima kasih Eki, kau lakukan itu, inisiatif mu untuk cepat mengucapkan terima kasih itu bagus sekali. Hanya orang yang punya jiwa kepemimpinan yang begitu. Saya ingat cerita seorang teman yang Om nya dulu pejabat, dan setiap Om nya itu sambutan atau ngomong dikantornya, dia selalu ucapkan terima kasih kesemua orang, bahkan sampai tukang fotocopy semua lembaran bahan rapat juga na bilangi terima kasih. Deh, panjang na itu sambutan na diih haha. Tapi bukan itu, poinnya adalah acknowledge semua yang berperan dan sampaikan terima kasih. Kau mengambil inisiatif berterima kasih ke UnhasTV atas nama TEDx, itu keren.
Eki, saya notice kalo ada yang sering sekali muncul dalam setiap wa mu: “minta maaf kalau banyak kekurangan kak.” Indonesia sekali itu nah. Baru ka sadar juga tentang itu pas ka tinggal disini. Disini toh jarang sekali (mungkin tidak pernah saya dengar malah) ada yang “apologize for any shortcomings.” Pernah saya tanya temanku kenapa orang di barat merasa tidak perlu bilang maaf atas kekurangan? Na bilang “karena pasti mi ada kekurangan dan itu wajar ji, kenapa harus minta maaf, kan bukan kesalahan?” iya tong iyaa, tapi yaah kan being humble saja toh. Tapi biar tommi kan begitulah budaya ta. Dan saya tidak menemukan kekurangan selama kau handle apa-apa, Eki. Yang saya lihat hanya “deh ini anak penuh dedikasi, sopannya lagi.” Dari semua wa mu sejak mei 2024 sampai terakhir minggu kedua Januari 2025 ada 33 kata “maaf” mulai “maaf merepotkan, maaf mengganggu, maaf kasih tunggu ki, maaf ganggu waktu ta, dst”.
Dedikasi tinggi. Andalangko memang Eki, bemana tidak, fast respon skali ko. Ko tidur sama hapemu juga kapang dih? ka biar tengah malam di wa ko, ih menjawab jako. Massukku saya itu toh, ku wa ko itu supaya tidak kulupai, biar pagi pi disana baru nu jawab ki.
Tanggal 3 Juli 2024, nu chat ka (ada mi seng kata “maaf” na):
“assalamu alaikum kak gego, maaf chatki malam waktu sini kak. Ada mau saya tanyaki kak tapi bukanka sebagai tim TEDx, maaf ganggu sebelumnya kak (maaf mi sedeng). Tabe disini saya berbicara sebagai officer Public Relation dari FPCI Unhas.” Kau minta ka sharing dengan anak-anak FPCI, acara Induction Training divisi event FPCI.
Waktu itu sebenarnya nda terlalu sreg ka, makanya saya tanya balik “why me?” panjang jawabanmu Eki, tapi intinya karena saya bisa bikin event TEDx dan anak-anak event di FPCI mau belajar dari situ, kira-kira begitu. Padahal bukan ka EO kamase. Apalagi materinya bagaimana membuat creative event. Berarti nu tuduhka sebagai orang kreatif. Tapi saya oke kan, dengan syarat saya nda mau bikin ppt dan kita hanya ngobrol saja. di forum itu saya bilang “saya bersedia penuhi undangan ini karena Eki yang minta nah. Mana ko Eki?”
Kita ketemu pertama kali waktu di departemen, pas ka tiba, yang ada Gerben Moerman diruang senat. Sopan betul ko, bukan hanya wa mu, tapi gesture mu juga. Plus senyum terus ko juga. Sempat ko bilang waktu itu “deh kak Gego, banggaku bisa jadi volunteer acara TEDx, terima kasih kak Gego.” weh bukan saya yang seleksi dan pilih volunteer nah, itu anak tiga yang seleksi dan pilih. Nda ikut campur ka saya. Tapi sekarang toh, saya yang dengan bangga bilang “saya bangga pernah kerja bareng Eki.”
Ko ingat waktu kita ke salah satu radio di Makassar untuk acara ngobrol? Bertiga ki sama Abilah. Kau ikut juga, dan selama talkshow kau rekam video dan foto. Dan kau duduk dilantai temani kami talkshow, ka nda adami kursi. Kadang-kadang ikut ko ketawa juga. Deh kuingat semua itu, Eki.
Akhir tahun 2024, baku wa ki sedeng. Ku bilang “masih mahasiswa ko kira-kira kalo selesai ma? Siapa tahu bisa ka jadi pengujimu HAHAHA”
Deh kak HAHAHAHAAH
Kapan ki selesai di Belanda kak
(sebelum mu selesai)
Kebetulan bola lagi sa bahas kak
(aiih harusnya saya jadi pengujimu, supaya ku uji betul-betul ko, kalo perlu ku tekkel ko haha)
Akhirnya kita diskusikan skripsimu lewat wa. Seru diskusinya diih haha saking serunya, saya yang minta maaf “sorry nah kalo harsh ka.” Saya kalo urusan begini, agak anu-anu ka memang, suka ku sleding anak-anak yang kuanggap dekat dengan saya, karena kalo nda dekat ka, “ero-ero nu deh” kenapa saya mau pusing.
Kau takut sekali ubah pertanyaan penelitianmu, baru saya komporiko:
“hanya Al Quran yang tidak bisa diubah”
(matemija. Takutt) begitu kau balas hahaha
“Zoom maki saja, capekka mengetik” saya bilang. Seru diskusi ta di zoom dih. Alhamdulillah kalo saya sudah cukup membantu. Di zoom itu kau juga curhat, mengeluh mau menyerah dan berhenti mi kerjakan skripsi. Saya bilang “kujaguru’ ko itu kalo menyerah ko. Jangko kasih malu-malu club.” Sorry nah, begitu memang kata-kata ku kalo sama teman yang sudah saya anggap dekat, agak-agak kurang ajar begitue mulutku, begitu mi kapang loph lenguajh ku, Eki. Waktu saya tanya ko, berapa ko bersaudara, kau bilang kau anak paling tua dan kau cerita pacemu sudah meninggal, saya bilang “beh, PHK ko itu kawe, jangko menyerah kurang ajar!”
"Apa itu PHK, kak?"
Pemuda Harapan Keluarga
Dan kita berdua ketawa haha.
Saya mencoba untuk berada diposisimu yang lagi berjuang menulis juga, dan saya juga sering stuck sampai saya bilang “ini saya botak ma napakamma ee” trus kau bilang “saya juga kak, botak tomma eh, kita itu ka tua maki kak, saya iyaa” sambil nu sapu-sapu kepalamu. Sambalak kau Eki. Dan kau ketawa terbahak. Seru sekali zoom ta, Eki.
Eki, sudah mi deh. Saya tulis ini karena saya mau kenangko dengan caraku sendiri, secara sederhana supaya nda berlanjut sedihku. Mungkin karena saya tidak sempat berinteraksi banyak dengan kau jadi saya “ngobrol” ini dengan kau. Waktu saya terima kabar ada mahasiswa hilang dan kau salah satunya, saya sudah tidak bisa kerja, saya tunggu update saja dari group wa. Berdoa ka itu hari semoga kau dan teman-temamu ditemukan selamat. Dan waktu dibilang ditemukan mi jenazahmu, saya menangis sejadi-jadinya dan ada teman yang lihat ka terduduk dilantai, sampai dia khawatir saya ada apa-apa. Tapi saya suruh pergi. Besok Paginya, sakit ulu hatiku, mata bengkak. Nda ngampus ka. Saya tiba-tiba ingat, harusnya saya wa ko kasih tahu bilang kayaknya berpeluang ka jadi pengujimu ini, tapi saya tahan-tahan wa ko, kutunggui kau tahu sendiri, kasih surprise ko.
Eki, tenang ko disana nah. Ternyata saya sayang ko, itumi kenapa saya selalu berusaha penuhi permintaanmu. Dan itu mi kenapa saya sedih sekali. Beberapa hari setelah kematianmu, postingan teman-teman mu bikin tambah sedih dan saya menjadi tahu kau orangnya seperti apa. Teman-temanmu sedih sekali itu.
Saya juga pernah merasakan kehilangan sahabat saat kuliah. Namanya Uchu, teman angkatanku di HI. Kami sedih se sedihnya waktu dia meninggal. Saya bawa fotonya Uchu kalo keluar negeri ka nah karena kami pernah bermimpi akan keluar negeri bareng-bareng. Tapi belum sempat kejadian dia sudah meninggal, jadi yaah fotonya mami yang temanika. Ko tahu mi toh, anak HI itu pasti selalu mau keluar negeri.
Eki, kita tidak punya banyak kesempatan berinteraksi, tapi mungkin begitu cara Tuhan untuk membuat saya melihat, mengabadikan dan belajar dari kebaikanmu dan saya tidak punya kesempatan untuk kasih kecewa ko atau sebaliknya. Saya sengaja menulis ini ketika sedihku sudah berkurang, karena foto-fotomu yang berseliwiran di medsosku semuanya menampilkan mukamu dengan senyum sumringah sekali terlihat bahagia. Dan bahagiamu itu menular. Akhirnya saya jadi kepikiran “Eki itu selalu membawa kebahagiaan, dia mau teman-temannya bahagia.” Cukup mi kita bersedih atas kepergiannya Eki. Berbahagialah Tuhan pernah mengirimkan kita orang baik seperti Eki.
Eki, saya yakin dengan kepergianmu, semua lembaga dimana kau aktif, terutama HIMAHI, akan semakin terasa sebagai rumah bagi siapapun yang aktif disana. Mereka pasti akan lebih baku sayang, dan saya yakin itu yang kau mau toh?
Eki, Caca, dan Jean, terima kasih sudah menjadi mahasiswa yang tidak hanya mengejar akademik. Memang begitulah harusnya mahasiswa, berprestasi akademik dan bisa berdampak bagi lingkungannya. Dan kematian kalian untuk mengurus acara bakti sosial adalah buktinya. Sungai itu menjadi penandanya. Kepergian kalian juga akan membuat kami belajar. Seperti kata Pak Uceng “Ini sejarah paling menyedihkan bagi HI yg untuk pertama kalinya terjadi sejak jurusan ini didirikan.” Kami belajar bahwa di HI adalah rumah, kami belajar menjadi ayah dan ibu dari mahasiswa, sehingga kami bisa merasakan kesedihan yang sama dengan keluarga kalian. Kami belajar untuk lebih hati-hati.
Eki, semoga keluargamu tabah yah. Ibu dan adik-adikmu semoga kuat dan jadi seperti yang kau harapkan. Semoga keluarga Caca dan Jean juga diberikan ketabahan.
pesan wa terakhirmu kau komentari berita yang saya ketemu pelatih barunya timnas dan saya tanya, bemana mi skripsimu, nda ngaruh ji dengan pelatih baru? kau bilang "ngaruh sedikit ji." Eki, sayangnya saya nda punya kuasa untuk kasih ko gelar Sarjana, ka hampir betul mako sarjana eeh. Izin padeng saya dengan bangga mau bilang “Eki, kau itu adekku!” nah, botak?
Gego,
Jaxvelt, Rabu 29 Januari 2025
🥺 semoga beliau Husnul khatimah dan keluarga diberi kekuatan dan ketabahan.
ReplyDeleteSehat Ki selalu sekeluarga kak Gego.
AAMIIIN Terima kasih yek. sehat ki juga selalu
Delete